Sekolahku Tumpuan Masa Depanku
Bisingnya jam beker yang berdering membangunkanku di pagi hari, mengawali hal baru yang akan kuhadapi hari ini. Aku mematung diri mengumpulkan sedikit nyawa yang masih terlelap, sebelum aku bersiap berangkat ke sekolah.
Sekolah, itulah yang kujawab ketika orang bertanya tentang tempatku belajar banyak cara bersosialisasi, tentang cara bertatap muka dan bertegur sapa dengan anak-anak yang sebaya denganku, tentang cara belajar semua pelajaran bidang akademik, belajar untuk menghargai, menghormati dan peduli teman juga sekitarku.
Sekolah, tempat aku berdiri saat kumasuki gerbang pertama dari bangunan yang masih kental dengan arsitektur Belanda, berdiri tegak di antara bangunan lain di pusat kota. Terlihat bersih nan asri serta hijau ditumbuhi pepohonan yang rapi dan tertata apik karena semua murid cinta akan kebersihan. Sangat terlihat jelas wajah-wajah bersemangat terpancar dari muda-mudi Indonesia yang akan menjadi tumpuan bangsa selanjutnya. Kudengar dan kulihat jelas mereka yang berseragam putih biru saling bertegur sapa sambil sesekali bersenda gurau, ada juga yang berlarian serta berjalan menjinjing benda yang bentuknya beragam berisi buku-buku sumber ilmu yang dinamakan tas. Semua inderaku berfungsi otomatis dan ingin berpartisipasi aktif saat aku berdiri di sekolah.
Media fasilitator berfungsi sebagai mana mestinya, ruang kelas bersih sebersih-bersihnya dan nyaman sekali jika kita belajar di sini, semua digunakan menurut fungsinya. Air minum hexagonal juga selalu menjadi pelepas dahaga saat bel istirahat berbunyi dari speaker di dalam kelas. Saat aku berjalan menyusuri koridor di depan lab-lab yang bertuliskan language laboratory, biology laboratory, physics laboratory, dan multimedia center aku berhenti sejenak untuk mendengar suara alunan beberapa musik tradisional yang berasal dari ruang musik seberang koridor tempat aku berjalan. Aku meneruskan langkahku yang sempat terhenti tadi, aku terus melangkah dan berbelok di ujung koridor dan menyusuri lantai berelemen batu yang membawaku duduk di bangku panjang di tengah gedung sekolah yang merupakan taman kecil berarsitektur Belanda yang masih sangat khas ukiran-ukirannya. Aku memperhatikan ikan-ikan hias yang berenang di kolam air mancur yang akan terlihat begitu elegan oleh setiap pasang mata yang melihatnya.
Limabelas menit beristirahat cukup untuk melepas penat setelah menyimak beberapa rangkaian materi dari setiap guru yang memasuki ruang kelas per mata pelajaran saat bel pergantian pelajaran berbunyi. Semua murid di sini diharuskan membiasakan diri mematuhi semua etika yang diatur di sekolah ini. Bel masuk kelas pun akan terlihat layaknya ajang perlombaan memasuki ruang kelas masing-masing untuk kembali berkutat dengan materi-materi selanjutnya. Sekolah mengajariku berbagai hal termasuk seluruh aspek kehidupan sehari-hari, sehingga aku dapat lebih menghargai waktu dan hidup lebih tertata serta disiplin.
Kurikulum berstandar internasional, materi yang menantang dan soal-soal yang tidak monoton yang selalu membuatku berpikir dan mengasah otak saat belajar. Guru-guru di sekolah memberikan jawaban rasional dan ilmiah saat aku bertanya tentang materi yang tidak kumengerti. Sekolah ini menjadi tempat persaingan kecerdasan otak manusia. Sekolah bukan tempat untuk memamerkan barang-barang yang kita punya, sekolah juga bukan tempat untuk berhura-hura layaknya di pesta. Sekolah adalah lembaga yang menjadi tempat pranata sosial yaitu pendidikan, bukan sekedar popularitas nama tapi juga populer akan prestasi-prestasi para siswa terpilih yang menduduki bangku sekolah itu.
Keterampilan dalam mengeluarkan kemampuan di bidang non-akademik di setiap akhir minggu selalu ditunggu oleh para siswa dengan bakatnya masing-masing. Piala tetap dan piala bergilir diperebutkan oleh setiap individu atau kelompok terbaik yang diturunkan oleh masing-masing ekstrakulikuler. Setiap anggota ekstrakulikuler berlatih giat tanpa mengganggu kestabilan kegiatan belajar mengajar, sehingga para siswa dapat lebih terpacu untuk menjadi seorang yang berprestasi dalam bidang akademik maupun non-akademik.
Pribadi yang cerdas bukan hanya seorang yang pandai berpikir ataupun mampu mengerjakan soal dengan lancar dan mendapat angka yang tinggi di rapor, pribadi yang cerdas juga harus diikuti dengan angka sempurna dari Tuhan. Rajin beribadah merupakan perilaku minimal yang harus dimiliki setiap individu. Sekolah telah menyediakan fasilitas beribadah untuk siswa-siswi muslim. Terlihat dari sebelah gedung bertingkat dua ruang belajar mengajar sebuah masjid yang memang bukan seperti Masjid al-Haram yang megah jauh di Saudi Arabia sana dan juga bukan Masjid Kubah Emas yang berlapis emas, namun terasa nyaman ketika kita memasukinya. Masjid bertingkat dua yang dindingnya berlapis keramik berwarna hijau tua menjadi tempat yang dikunjungi siswa-siswi muslim untuk beribadah saat bel istirahat kedua berbunyi. Aku selalu merasa nyaman di bangunan ini, bangunan ini memberikan kesejukan di luar maupun di dalam diri setiap penghuninya.
Rasa lapar adalah manusiawi, setelah hampir setengah hari menguras otak dan tenaga, para siswa seolah-olah mendengar cacing di perutnya sedang memulai kontes paduan suara. Seperti biasanya kantin menjadi tujuan para siswa yang sedang merasa haus dan lapar, kantin terletak tidak terlalu jauh dari masjid. Setelah melewati sebuah kebun yang sangat hijau dan asri, juga setelah melewati satu bangunan yang berbentuk gor mini tempat berolah raga, berdiri sebuah bangunan yang tidak besar namun terlihat rapi dan bersih. Bercat putih di semua dindingnya. Beberapa meja persegi panjang berwarna coklat kayu serta bangku panjang yang berwarna senada dengan mejanya, diduduki oleh para siswa yang sedang menyantap hidangan makan siang yang mereka beli di kantin, ada yang membawa bekal dari rumah untuk lebih berhemat dan ada juga yang hanya sekedar duduk sambil bercakap-cakap menurut topiknya masing-masing. Meja-meja itu terletak di tengah kantin, di depan berbagai stand makanan dan minuman yang terjamin kebersihannya. Di setiap sudut kantin ditaruh dua buah tempat sampah berbentuk tabung dengan tutup setengah bola yang masing-masing bertuliskan organik dan non-organik, sampah-sampah dibuang menurut jenisnya.
Delapan jam pun telah berlalu, hampir seharian siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama ini berada di sekolah. Tiba waktunya untuk menuju hunian masing-masing, walaupun begitu sesekali masih terlihat beberapa siswa yang berkeliaran di sekolah. Ada yang mengerjakan tugas kelompok di sebuah ruangan besar yang disebut ruang serbaguna dan ada juga yang masih menunggu jemputannya masing-masing di ruang tunggu dekat gerbang utama. Sungguh almamater yang tidak akan terlupakan oleh semua orang yang menuntut ilmu disini.
Teriakan ibuku membangunkanku dari alam bawah sadar. Aku tidak menyadari betapa lamanya aku berimajinasi tentang sekolah impianku. Setelah sadar sepenuhnya, segera aku menemui ibuku yang sedari tadi meneriakan namaku. Setelah menerima teguran dari ibuku, aku bergegas masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Secepat kilat aku memakai pakaian seragam sekolahku. Aku menyantap sarapanku dengan lahap, dan menaiki bus sekolah yang tiba di depan rumah saat aku selesai menyantap sarapanku. Untunglah aku dapat bergerak secepat mobil balap yang melaju di lintasan, untuk memakai sepatuku saja aku hanya butuh waktu kurang dari lima menit. Kalau tidak begitu, aku akan terlambat karena memang cukup lama otakku terbang dengan imajinasiku tentang sekolah impian.
Duapuluh menit menuju sekolahku adalah waktu yang cukup cepat di jalanan Kota Bandung saat ini. Aku melewati gerbang sekolah dan berjalan menuju kelasku. Aku duduk di bangku yang biasa kududuki, di samping teman sebangkuku yang sudah lebih dulu sampai. Tak lama setelah aku tiba di kelas, suara bel terdengar, itu pertanda bahwa siswa-siswi diharapkan masuk ke kelasnya masing-masing, karena berdoa di pagi hari untuk mengawali kegiatan di sekolah hari ini akan segera dimulai. Sebelum aku mengucapkan doa-doaku hari ini, aku berkata dalam hati, “Aku siap menimba ilmu di sekolahku yang sebenarnya, karena sekolahku adalah tumpuan masa depanku.”
~
FYI : Ini essay plus edit bareng sama Nadia Zahra Sugiarto & Shiddiq Badruddin untuk requirement ikutan lomba debat di Festival Pers Kayu dan Alhamdulillah lolos :’»