Presiden, Wakil Rakyat, Timnas
Indonesia. Setitik merah dari darah para pejuang, putih dari tulang pendiri negara, merah putih satu yang padu tegakan mimpi dan harap rakyatnya. Sedikit saja Pak Presdien, bolehkah saya inginkan negara ini dipandang? Sedikit saja Bapak Ibu wakil rakyat, bolehkah saya ingin sekejap saja kalian lupakan uang? Sedikit lagi, Firman, Arif, Irfan, Gonzales, Bambang dan kawan-kawan, bangsa menanggalkan harapan, bisa kah kalian banggakan Garuda? Bukan karena gengsi atau harga diri tapi karena sikap. Pimpinlah negara ini dengan adil pak, aturlah negara ini dengan hukum Pak, Bu, bermainlah dengan tangguh Garuda! Bukan harapan yang kalian wujudkan jika hanya bermodal haus akan pujian dan materi. Hanya keinginan yang diwujudkan, hanya kefanaan yang didapat. Wujudkanlah harapan dengan kegigihan, kewajiban, dan ketekunan. Lihatlah banyak yang berharap, bukan berkhayal. Bukan kritik apalagi pujian, negara ini negara berkembang, iyakah? Apakah? Kemana? Berkembangkah jika terlalu banyak orang yang memuja uang? Berkembangkah jika hanya sedikit yang sadar akan keadilan? Berkembangkah jika berkembang itu memiliki dua definisi dan arah? Lihat Indonesia, sadarkah jika kamu telah dilupakan bangsanya? Sadarkah jika kamu diinjak Malaysia? Sadarkah jika kamu telah di jajah dunia? Bangkit Indonesia, bentangkan sayapmu garuda, jangan biarkan lagu kebangsaan Malaysia menggema di senayan esok hari.