Top ↑ | Archive | Any question? | Submit

15

Hello, i’m 15. Happy? not, sad? probably yes. Why? i’m getting closer to death.

Bandung, 28 Oktober 1995, tangis anak perempuan yang baru saja lahir memecah hening dan khawatir. Seorang bapak dan ibu tersenyum. Dikumandangkannya suara adzan di dekat telinga anak itu dengan lembut.

15 tahun saya hidup di dunia fana ini. Betapa mudah ya waktu merubah semuanya. Tapi saya tetap saya, hanya saja, pikiran saya bukanlah saya.

Lupakan tentang saya.

Hari ini hujan, entah kenapa hujan itu bisa meresonansi pikiran kembali ke masa lalu. Masa lalu itu tidak selalu indah, ada yang pahit ada juga yang biasa. Sebetulnya tergantung bagaimana kita menyikapinya. Banyak orang yang menyesali masa lalu, tapi Bung, lihatlah kedepan! Masih ada beragam imaji yang bisa kamu ciptakan menjadi realita.

Sedikit pertanyaan, apakah saya orang yang beruntung atau sebaliknya? oh Bung! coba perhatikan di 15 tahun ini saya masih bisa mengeluarkan suara dengan jelas, saya masih bisa mendengar suara burung berkicau yang kini kian lenyap, saya bisa merasakan dinginnya pagi dan panasnya siang, saya masih bisa ditegur orang karena berisik, bisa menggerakan kaki, tangan, kepala, pundak, lutut, lupakan! Saya orang yang beruntung.

Adakah kalkulator yang bisa menghitung sampai beratus-ratus juta digit angka? jika ada akan saya beli, akan saya hitung semua dosa yang saya miliki dan bagaimana jika kalkulator itu masih tidak cukup untuk menampung banyaknya digit angka yang ada? Ampuni saya Tuhan, niscaya digit itu akan berkurang dengan sendirinya.

Jika saya boleh jujur, Tuhan, 15 tahun belum cukup untuk saya tahu, bagaimana Tuhan mengemas dunia ini dengan hiasan yang beragam, menampilkan berjuta warna pengendali mata, dan menyampaikan semua relasi antar segala makhluknya. Saya juga belum tahu bagaimana cara menghargai hidup, bagaimana menjadi hangat untuk dingin, bagaimana menjadi cinta untuk keluarga, dan bagaimana menjadi senyum juga tawa untuk dunia.

Saya bukan seniman apalagi sastrawan, yang bisa melukis indahnya dunia, yang bisa bermain dengan kata. Saya adalah seorang yang berharap. Berharap akan kesuksesan realita. Berharap hari ini hari terakhir saya lakukan kesalahan yang terus terulang, dan berhenti merancang kesalahan baru. Berharap berhenti mengharapkan fatamorgana yang muncul sebagai kebohongan gigantis, berhenti bersujud dihadapan oasis ditengah gurun yang meraja. Berharap bisa mempelajari setiap simpulan makna dalam setiap cerita realita. Berharap bangkit dari jatuh, berharap kabur dari ilusi dan manipulasi kehidupan.

Suatu hari, saya adalah saksi. Saksi bahwa dulu saya menangis dan nanti akan kembali menangis. Menangis atas kemenangan dalam dunia fana, dan tersenyum dalam dunia abadi. Tundukanlah dari setiap kesuksesan, bangunkanlah dari kekhilafan dan bangkitkan dari kelemahan.

Semoga saya dapat menulis yang ke-16 di 28 Oktober selanjutnya.

Gina Andryana Hidayat